Liputan6.com, Jakarta Kehadiran tikus di lingkungan rumah tangga merupakan masalah umum yang kerap menimbulkan kekhawatiran. Hewan pengerat ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membawa risiko serius bagi kesehatan penghuni serta kerusakan properti. Di Indonesia, terdapat beberapa jenis tikus utama yang sering berkeliaran di rumah, masing-masing dengan karakteristik, habitat, dan kebiasaan berbeda.
Memahami jenis-jenis tikus ini sangat penting agar langkah pengendalian dapat dilakukan secara tepat dan efektif. Dengan identifikasi yang benar, pemilik rumah dapat menentukan strategi pencegahan dan penanganan yang paling sesuai, menjaga rumah tetap aman dan sehat. Kewaspadaan serta tindakan preventif menjadi kunci utama untuk menghadapi ancaman hama pengerat ini.
1. Tikus Atap (Rattus rattus)
Tikus atap dikenal dengan tubuhnya yang ramping dan ekor yang lebih panjang dari tubuhnya, seringkali mencapai lebih dari 40 cm. Bulu tikus atap umumnya berwarna hitam atau cokelat gelap, memungkinkannya berbaur di lingkungan gelap. Mereka adalah pemanjat ulung yang sangat lincah, dengan ekor panjang berfungsi sebagai penyeimbang saat bergerak di ketinggian.
Sesuai namanya, tikus atap cenderung menghuni bagian atas bangunan seperti plafon, loteng, atap rumah, dan langit-langit. Di daerah pedesaan, mereka juga dapat ditemukan di lumbung atau gudang penyimpanan makanan. Hewan nokturnal ini aktif di malam hari dan merupakan omnivora, memakan biji-bijian, buah, hingga sampah rumah tangga. Tikus atap sering menggigit berbagai benda untuk mengasah giginya yang terus tumbuh, berpotensi merusak kabel listrik dan struktur bangunan.
Bahaya utama dari tikus atap meliputi kerusakan properti akibat gigitan pada kabel yang dapat menyebabkan korsleting dan kebakaran. Selain itu, mereka dapat membawa lebih dari 45 jenis penyakit dan mencemari makanan serta lingkungan dengan kotoran dan urinenya.
2. Tikus Got (Rattus norvegicus)
Tikus got memiliki tubuh lebih besar dan berotot dibanding tikus atap, dengan panjang tubuh sekitar 20–25 cm dan ekor yang lebih pendek dari tubuhnya. Bulu mereka biasanya cokelat keabu-abuan, cocok berbaur dengan lingkungan lembap dan gelap seperti selokan atau got. Tikus got dikenal ahli menggali liang dan membuat sarang di dekat sumber air.
Tikus got sering ditemukan di saluran air, selokan, gudang, dan dapur rumah. Hewan ini adalah omnivora yang memakan hampir semua jenis makanan, termasuk sampah organik. Karena ukurannya yang besar, tikus got dapat merusak properti lebih signifikan dibanding tikus atap, mulai dari kabel listrik hingga pintu atau panel kayu.
Bahaya utama tikus got termasuk penyebaran penyakit seperti leptospirosis, salmonella, dan tularan bakteri lainnya. Mereka juga dapat mencemari makanan dan air, sehingga kebersihan lingkungan sangat penting untuk mencegah infestasi tikus got.
3. Tikus Sawah (Bandicota indica)
Tikus sawah memiliki tubuh besar dan ekor relatif pendek, dengan bulu berwarna cokelat muda hingga abu-abu. Mereka dikenal agresif dan gesit, mampu bergerak cepat untuk mencari makanan di sawah maupun rumah yang dekat dengan ladang. Tikus sawah juga memiliki kebiasaan menggali lubang sebagai tempat berlindung.
Biasanya, tikus sawah memasuki rumah yang dekat dengan area persawahan atau kebun, terutama saat musim panen. Mereka memakan berbagai jenis biji-bijian, buah, dan sayuran. Tikus sawah dapat merusak makanan dan bahan bangunan karena kebiasaan menggigit dan menggali.
Bahaya tikus sawah tidak hanya kerusakan material, tetapi juga potensi penularan penyakit melalui kotoran dan urin. Kehadiran mereka di rumah atau gudang dapat mengganggu kenyamanan sekaligus membahayakan kesehatan penghuni.
4. Tikus Belanda (Cricetomys gambianus)
Tikus belanda memiliki tubuh besar dan ekor panjang, dikenal sebagai hewan peliharaan, tetapi beberapa liar dapat berkeliaran di rumah. Tubuhnya kuat, kaki panjang, dan bulu cokelat hingga abu-abu. Mereka aktif di malam hari, omnivora, dan mampu memanjat perabot untuk mencari makanan.
Hewan ini pemalu dan jarang menyerang manusia, tetapi tetap bisa menjadi hama jika ada akses makanan atau tempat berlindung. Mereka memakan biji-bijian, buah, dan sisa makanan rumah tangga. Tikus belanda membangun sarang dari bahan lunak untuk tempat tidur dan perlindungan.
Bahayanya termasuk potensi penularan penyakit jika kontak dengan manusia tidak higienis. Pencegahan berupa menjaga kebersihan rumah, menutup akses makanan, dan menutup celah masuk menjadi langkah utama untuk menghindari infestasi.
5. Tikus Got Kecil (Mus musculus)
Tikus got kecil memiliki tubuh mungil panjang sekitar 6–9 cm dengan ekor sebanding tubuh. Bulu abu-abu atau cokelat muda membuatnya mudah berbaur di dapur, gudang, atau area rumah lainnya. Mereka gesit, mampu masuk melalui celah sekecil 0,5 cm, dan aktif di malam hari.
Makanan tikus got kecil sangat beragam, termasuk biji-bijian, sisa makanan manusia, dan sampah organik. Mereka sering membuat sarang dari kain, kertas, atau bahan lunak lainnya di tempat tersembunyi untuk berlindung dan berkembang biak.
Bahaya tikus got kecil mencakup pencemaran makanan, kerusakan kabel, peralatan rumah tangga, dan potensi penyebaran penyakit. Pencegahan utama adalah menjaga kebersihan, menutup makanan, dan menyegel celah masuk agar tikus tidak bisa masuk ke rumah.
6. Tikus Tanah (Meriones unguiculatus)
Tikus tanah biasanya hidup di daerah kering dan berpasir, tetapi dapat memasuki rumah yang dekat kebun atau lahan kosong. Tubuhnya sedang, aktif di siang dan malam hari, serta memiliki kebiasaan menggali lubang untuk sarang dan perlindungan. Bulu mereka cokelat muda dan ekor panjang membantu keseimbangan saat bergerak di tanah.
Tikus tanah memakan biji-bijian, sisa makanan manusia, dan bahan organik lain. Mereka bisa merusak halaman, taman, dan struktur tanah dengan kebiasaan menggali, serta masuk ke rumah mencari makanan dan tempat berlindung.
Bahaya tikus tanah termasuk kerusakan makanan, properti, dan halaman. Pencegahan meliputi penghalang fisik, pengelolaan lingkungan, dan menjaga kebersihan agar tikus tanah tidak menjadi hama di rumah.
7. Tikus Hutan (Apodemus sylvaticus)
Tikus hutan biasanya ditemukan di pinggiran kota dekat pepohonan atau hutan. Tubuhnya kecil, lincah, dan aktif di malam hari, dengan bulu cokelat gelap hingga cokelat muda yang memudahkan mereka bersembunyi di pepohonan dan semak. Mereka memakan biji-bijian, buah, dan sisa makanan manusia.
Hewan ini jarang menyebabkan kerusakan besar di rumah, tetapi tetap dapat memasuki gudang, dapur, atau rumah di pinggiran hutan untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Tikus hutan juga membangun sarang dari daun kering, ranting, atau kain yang ditemukan di lingkungan rumah.
Bahayanya termasuk potensi penyebaran penyakit, pencemaran makanan, dan kerusakan kecil pada barang rumah tangga. Pencegahan meliputi menjaga kebersihan, menutup akses makanan, dan menutup celah rumah agar tikus hutan tidak masuk.
Bahaya Umum Kehadiran Tikus di Rumah
Kehadiran tikus di rumah menimbulkan berbagai bahaya serius yang tidak boleh diabaikan, baik bagi kesehatan penghuni maupun integritas properti. Pemahaman mendalam tentang ancaman ini penting untuk mendorong tindakan pencegahan yang efektif.
Salah satu bahaya terbesar adalah penyebaran penyakit. Tikus dikenal sebagai pembawa lebih dari 35 penyakit berbahaya yang dapat menular ke manusia. Penularan bisa terjadi melalui kontak langsung, urine, kotoran, air liur, gigitan, atau kutu yang menumpang pada tikus. Beberapa penyakit yang ditularkan meliputi:
- Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Penyakit pernapasan parah dari hantavirus yang menyebar melalui partikel virus dari urine, kotoran, atau air liur tikus kering yang terhirup.
- Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Juga disebabkan oleh hantavirus, dengan gejala awal demam, nyeri, dan dapat berkembang menjadi gagal ginjal akut.
- Leptospirosis: Infeksi bakteri dari urine tikus yang mengkontaminasi air atau tanah, masuk melalui kulit yang terluka atau selaput lendir.
- Penyakit Pes (Plague): Disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang ditularkan oleh kutu dari tikus, menyebabkan demam dan pembengkakan kelenjar getah bening.
- Rat Bite Fever (Demam Gigitan Tikus): Infeksi bakteri akibat gigitan tikus.
- Lymphocytic Choriomeningitis (LCM): Disebabkan oleh kontak dengan kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi, dapat menyebabkan meningitis.
- Salmonellosis: Infeksi bakteri yang dapat ditularkan oleh tikus, menyebabkan gangguan pencernaan.
- Histoplasmosis: Penyakit pernapasan yang disebabkan oleh jamur dari kotoran tikus.
- Alergi dan Masalah Pernapasan: Kotoran tikus dapat memicu reaksi alergi dan asma, terutama pada anak-anak.
Selain penyakit, tikus juga menyebabkan kerusakan properti yang signifikan. Gigi seri mereka yang terus tumbuh memaksa mereka untuk menggerogoti benda-benda. Mereka dapat merusak kabel listrik yang berisiko menyebabkan korsleting dan kebakaran, plastik, kayu, logam, bahkan struktur bangunan.
Kontaminasi makanan dan minuman juga menjadi masalah serius. Tikus mencemari persediaan makanan dengan urine, feses, dan air liurnya. Mereka dapat menghasilkan hingga 80 kotoran per hari, yang tidak hanya merugikan secara langsung tetapi juga merusak kemasan dan rantai makanan. Lingkungan rumah juga menjadi kotor dan berbau akibat jejak kaki, urine, dan kotoran tikus yang menyengat.
Terakhir, kemampuan perkembangbiakan tikus yang sangat cepat memperparah masalah ini. Dengan masa bunting yang singkat (19-23 hari) dan kemampuan melahirkan 4-10 anak dalam sekali beranak, populasi tikus dapat mencapai 52-100 ekor dalam setahun jika makanan dan habitat tersedia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tindakan pencegahan dan pengendalian yang konsisten.
Pertanyaan Umum Seputar Topik
1. Apa saja jenis tikus yang sering berkeliaran di rumah?
Di Indonesia, tiga jenis tikus yang paling sering ditemukan di lingkungan perumahan adalah tikus atap (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), dan mencit (Mus musculus).
2. Bagaimana cara tikus menyebarkan penyakit ke manusia?
Tikus menyebarkan penyakit melalui kontak langsung, urine, kotoran, air liur, gigitan, atau kutu yang menumpang pada tubuh tikus. Partikel virus dari kotoran atau urine kering juga bisa terhirup.
3. Penyakit apa saja yang dapat ditularkan oleh tikus?
Tikus dapat menularkan lebih dari 35 jenis penyakit, termasuk Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), Leptospirosis, Penyakit Pes, Rat Bite Fever, Salmonellosis, dan Lymphocytic Choriomeningitis (LCM).

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427662/original/074436000_1764405599-desain_teras_kecil_tapi_longgar__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427557/original/006454100_1764395808-model_gamis_longgar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427540/original/079115400_1764394651-model_gamis_woolpeach.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418576/original/019602200_1763622219-Gemini_Generated_Image_bhu2n9bhu2n9bhu2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4186583/original/033169100_1665391530-SVOD_-_Go_Go_Squid_-_Poster_Landscape__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379366/original/064024100_1760342880-Gemini_Generated_Image_k09528k09528k095.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427600/original/081786700_1764399970-unnamed_-_2025-11-29T140315.653.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427583/original/038793800_1764398290-unnamed_-_2025-11-29T133706.230.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427469/original/035461200_1764389837-kebun_mini_di_balkon.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427532/original/056138500_1764394611-unnamed_-_2025-11-29T123454.290.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403869/original/062616900_1762339506-ular_kecil__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427449/original/000760300_1764388798-Cover___Lead__8_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427382/original/078277900_1764384996-unnamed_-_2025-11-29T095239.039.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427436/original/034359700_1764388266-model_gamis_chiffon_flowy__11_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311486/original/045216400_1754885061-ChatGPT_Image_Aug_11__2025__11_01_20_AM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427406/original/065025500_1764386466-unnamed_-_2025-11-29T100931.357.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3988054/original/054672600_1649316223-eduardo-jaeger-K7FJOFiCmOU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427395/original/053252400_1764385572-301b5cfb-aa90-4aa9-90cf-010c50b6899c.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427376/original/005091900_1764383918-090f8ff3-10df-410d-b1f3-1f1fc46b9fd0.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427229/original/037745600_1764337636-pexels-shardar-tarikul-islam-84327533-8983394.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347356/original/093309300_1757667913-Gemini_Generated_Image_k68zk1k68zk1k68z.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317655/original/048753600_1755399607-Screenshot_2025-08-17_095559.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344811/original/023366400_1757493743-hl.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5345053/original/058577600_1757501490-01325d16-633b-4633-90e6-950efdbca489.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347777/original/072783500_1757736538-hl_39393.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324162/original/055401400_1755843647-20250822-Lisa_M-HEL_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3955423/original/001688200_1646706636-hands-waving-flags-indonesia.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5303579/original/041631700_1754114018-Gemini_Generated_Image_ruwvxaruwvxaruwv.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307626/original/077318000_1754473554-bende4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344370/original/041842400_1757484704-ChatGPT_Image_Sep_10__2025__12_58_44_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5302883/original/072474400_1754037653-WhatsApp_Image_2025-08-01_at_15.36.16_1c69c972.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5291523/original/075298800_1753175918-Gemini_Generated_Image_pszk0vpszk0vpszk.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5320725/original/097582500_1755607274-gal1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)