3 Cerita Wayang Paling Populer: Kisah Klasik Penuh Hikmah

1 week ago 6

Liputan6.com, Jakarta Wayang merupakan warisan budaya Indonesia yang sangat kaya akan nilai luhur dan pelajaran hidup yang baik. Dikenalkan dan diwariskan secara turun-temurun, cerita wayang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa. Cerita wayang yang dipentaskan tidak hanya menarik, namun juga menyajikan kisah-kisah epik yang penuh dengan nilai moral dan spiritual yang penting.

Di Indonesia sendiri, cerita wayang yang sering kita dengar berasal dari dua epos besar India kuno, yaitu Mahabharata dan Ramayana. Dimana kedua epos ini kemudian diadaptasi dan dikembangkan sesuai dengan budaya dan nilai-nilai lokal yang ada di Indonesia, sehingga cerita wayang yang kita dengar hingga saat ini tidak hanya unik, tapi juga memiliki ciri khas tersendiri yang melokal.

Berikut ini tujuh cerita wayang paling populer yang sering dipentaskan dan digemari oleh masyarakat, yang telah Liputan6 rangkum pada Selasa (18/11).

Gatotkaca

Cerita wayang populer yang pertama adalah kisah kelahiran Gatotkaca. Gatotkaca merupakan putra dari Bima dan Dewi Arimbi, seorang putri raksasa yang baik hati, pernikahan kedua orangtuanya didasari oleh cinta yang tulus, meskipun berasal dari dua dunia yang berbeda.

Cerita berawal ketika Bima dan Dewi Arimbi menantikan kelahiran putra mereka, dengan sukacita. Namun, kegembiraan mereka berubah menjadi kekhawatiran karena tali pusar bayi mereka tidak bisa dipotong dengan cara apapun.

Bima pun mencoba memotongnya dengan senjata andalannya, Kuku Pancanaka, namun gagal. Arjuna pun dipanggil untuk membantu dengan Keris Kalanadah dan Panah Sarotamanya, namun tidak berhasil. Bahkan batara Kresna pun tidak mampu memotong tali pusar sang bayi.

Begawan Abiyasa kemudian memberitahu mereka bahwa hanya senjata Batara Guru lah yang bisa memotong tali pusar tersebut. Arjuna pun diperintahkan untuk pergi ke kahyangan, untuk mendapatkan pusaka yang disebutkan.

Arjuna pun segera berangkat ke kahyangan, namun disana sedang terjadi kekacauan. Kala Pracona, seorang raksasa, ingin memperistri Dewi Supraba dan mengamuk karena ditolak. Melalui pusaka Kaca Trenggana, Batara Guru pun melihat bahwa hanya bayi yang belum terlahir sempurna itulah yang bisa mengalahkan Kala Pracona. Batara Guru kemudian memberikan senjata Kunta Wijayandanu kepada Arjuna.

Arjuna akhirnya mendapatkan saring senjata tersebut, yang ternyata cukup untuk memotong tali pusar bayi. Bayi yang diberi nama Jabang Tetuka itu, kemudian dibawa ke kahyangan. Ketika berhadapan dengan Kala Pracona, sanga bayi berhasil mencolok mata raksasa tersebut, namun kemudian dibanting oleh Kala Pracona yang marah.

Para dewa panil melihat kejadian tersebut, takut Bima akan mengamuk. Semar pun membisikan ide kepada Batara Guru untuk memasukan Jabang Tetuka ke dalam Kawah Candradimuka. Keajaiban pun terjadi, bayi itu tidak hanya hidup kembali, tapi juga tumbuh menjadi dewasa dalam sekejap.

Para dewa kemudian melemparkan berbagai senjata ke dalam kawah, yang semuanya kemudian melebur dan masuk ke dalam tubuh sang bayi. Hingga ia akhirnya mendapatkan julukan ‘otot kawat balung wesi’ atau otot kawat tulang besi. Para dewa kemudian memberikan nama baru yaitu Gatotkaca. 

Dengan kekuatannya, Gatotkaca berhasil mengalahkan Kala Pracona dengan mudah, dan mengembalikan kedamaian di Kahyangan.

Ramayana

Kisah Ramayana dimulai dari Ramawijaya yang merupakan putra tunggal Raja Dasarata dan Dewi Kusalya yang terkenal karena kebijaksanaan dan kemuliaan akhlaknya sebagai titisan Dewi Wisnu. Dalam masa mudanya, Rama berkelana ke berbagai negeri untuk memperluas wawasan dan pengetahuannya.

Dalam perjalanan ini, dia pun pergi ke Kerajaan Mantili yang sedang mengadakan sayembara untuk mencari suami bagi Putri Sinta, putri Raja Janaka yang cantik jelita dan merupakan titisan dari Bahtari Sri Widowati. 

Sayembara diadakan dengan tiga syarat yang harus dipenuhi, dimana para pemuda harus bisa mengangkat, merentangkan dan melepaskan busur sakti Rudra yang tertanam di istana. Ribuan pemuda dari berbagai penjuru datang mencoba, namun tidak ada seorangpun yang mampu mengangkat busur tersebut. 

Hingga tiba giliran Rama tiba, dengan mudahnya dia berhasil melakukan ketiga syarat yang disebutkan, membuat semua hadirin takjub. Raja Janaka pun segera menerima Rama sebagai menantu dan pernikahan mereka dilangsungkan dengan meriah.

Namun kehidupan bahagia Rama dan Sinta di Ayodya harus terusik ketika Dewi Kekayi, salah satu permaisuri Dasarata, mulai merasa cemburu melihat mereka. Diapun menghasut suaminya untuk mengangkat Barata sebagai Raja dan mengusir Rama dari kerajaan.

Dengan hati yang hancur namun tetap patuh kepada ayah, Rama meninggalkan istana bersama Sinta dan adiknya Lesmana menuju Hutan Dandaka untuk menjalani pengasingan selama 13 tahun.

Di hutan yang lebat itu, mereka hidup sederhana namun tetap bahagia karena cinta yang tulus. Namun cobaan terbesar datang ketika Dasamuka merencanakan untuk menculik Sinta. Dia menyuruh Kala Marica menyamar menjadi kijang emas yang sangat indah untuk menarik Rama dan Lesmana menjauh dari Sinta. 

Saat keduanya mengejar kijang tersebut, Dasamuka datang menyamar sebagai kakek tua yang kehausan dan meminta pertolongan. Sinta yang berjiwa mulia tidak tahan melihat penderitaan orang lain, sehingga keluar dari lingkaran pelindung yang dibuat Lesmana. Begitu Sinta keluar, Dasamuka langsung menculiknya ke Alengka.

Kesedihan dan amarah yang mendalam menyelimuti hati Rama ketika mengetahui istrinya telah diculik. Dia bertekad untuk menyelamatkan Sinta meskipun harus berperang melawan kerajaan Alengka yang sangat kuat. Setelah melalui berbagai strategi dan pertempuran sengit dengan bantuan pasukan kera pimpinan Sugriwa dan Hanoman.

Akhirnya Rama berhasil mengalahkan Dasamuka dalam duel yang menentukan. Setelah menyelamatkan Sinta, mereka kembali ke Ayodya dan Rama dinobatkan sebagai raja, membuktikan bahwa kebaikan dan kebenaran akan selalu menang pada akhirnya.

Mahabharata

Kisah Mahabharata berpusat pada persaingan sengit antara dua keluarga besar keturunan Raja Kuru, yaitu Pandawa dan Kurawa. Pandawa terdiri dari lima bersaudara yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, mereka merupakan putra-putra dari Pandu yang terkenal jujur dan berbudi luhur.

Sementara Kurawa dipimpin oleh Duryodana bersama dengan 99 saudaranya yang terkenal sombong dan haus kekuasaan. Kedua keluarga ini masih berkerabat dekat, namun ambisi untuk menguasai tahta kerajaan Hastinapura membuat mereka menjadi musuh bebuyutan yang selalu berselisih.

Konflik dimulai ketika Duryodana tidak dapat menerima kenyataan bahwa Yudhistira, sebagai putra sulung Pandu, memiliki hak yang sah untuk mewarisi tahta Hastinapura. Duryodana merasa bahwa dialah yang paling berhak menjadi raja karena ayahnya Dhritarashtra adalah kakak Pandu. Namun karena Dhritarashtra buta sejak lahir, maka Pandu yang menjadi raja. 

Ketika Pandu meninggal, seharusnya Yudhistira yang menggantikannya, tetapi Duryudana dengan segala cara berusaha menghalanginya. Dia bahkan merencanakan berbagai tipu daya jahat untuk menyingkirkan para Pandawa, termasuk mencoba membakar mereka hidup-hidup di rumah lilin.

Puncak perseteruan terjadi ketika Duryodana mengundang Yudhistira untuk bermain judi dadu. Dalam permainan yang penuh kecurangan itu, Yudhistira kalah dan harus mempertaruhkan segalanya baik kerajaan, harta benda, bahkan istri mereka Dewi Drupadi. 

Ketika Drupadi diperlakukan dengan sangat hina di hadapan seluruh bangsawan Hastinapura, termasuk diupayakan untuk ditelanjangi di depan umum, para Pandawa bersumpah akan membalas penghinaan tersebut. Sebagai konsekuensi kekalahan dalam judi, para Pandawa harus menjalani pengasingan diri selama 13 tahun tanpa boleh dikenali oleh siapapun.

Setelah masa pengasingan selesai, para Pandawa kembali menuntut hak mereka atas setengah kerajaan Hastinapura sesuai perjanjian. Namun Duryodana dengan sombongnya menolak memberikan bahkan sejengkal tanah pun kepada sepupunya. 

Berbagai upaya perdamaian telah dilakukan, bahkan Prabu Kresna sendiri datang sebagai utusan damai, namun semuanya ditolak mentah-mentah oleh Duryodana. Tidak ada jalan lain selain perang untuk menyelesaikan sengketa ini.

Perang Baratayuda pun pecah di Padang Kurukshetra, melibatkan hampir seluruh kerajaan di dunia pada masa itu. Perang dahsyat ini berlangsung selama 18 hari dengan korban jutaan prajurit dari kedua belah pihak. Berbagai ksatria terkenal gugur dalam pertempuran ini, seperti Bisma, Drona, Karna, dan banyak lainnya.

Akhirnya, setelah pertempuran yang sangat panjang dan berdarah-darah, para Pandawa berhasil meraih kemenangan. Duryodana tewas dalam duel melawan Bima, dan hampir seluruh anggota keluarga Kurawa musnah. Namun kemenangan ini terasa sangat pahit karena harga yang harus dibayar dengan jutaan nyawa yang melayang, termasuk para kesatria dan pemimpin terbaik dari kedua belah pihak. 

Yudhistira akhirnya dinobatkan sebagai raja Hastinapura, tetapi kesedihan mendalam menyelimuti hatinya karena kehancuran yang ditimbulkan oleh perang saudara ini. Perang Baratayuda mengajarkan bahwa keserakahan dan ambisi kekuasaan dapat membawa kehancuran yang sangat besar, bahkan bagi keluarga dan bangsa sendiri.

Pertanyaan dan Jawaban (Q&A)

Q: Apa perbedaan antara bahasa Padang dan bahasa Minang?

A: Bahasa Padang dan bahasa Minang sebenarnya merujuk pada bahasa yang sama, yaitu bahasa Minangkabau. Penyebutan "bahasa Padang" lebih populer karena Padang adalah ibu kota Sumatra Barat dan menjadi pusat penyebaran budaya Minang, terutama melalui rumah makan Padang.

Q: Apakah bahasa Padang sulit dipelajari?

A: Bahasa Padang relatif mudah dipelajari bagi penutur bahasa Indonesia karena memiliki beberapa kesamaan struktur. Namun, untuk menguasainya dengan baik, perlu memahami konteks budaya dan sistem kekerabatan Minangkabau yang unik.

Q: Berapa banyak kata bahasa Padang yang sudah masuk KBBI?

A: Menurut data terbaru, sekitar 1.030 kosakata bahasa Minang telah resmi dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menjadikannya bahasa daerah dengan kontribusi terbanyak kedua setelah bahasa Jawa.

Q: Bagaimana cara belajar bahasa Padang dengan efektif?

A: Cara terbaik adalah dengan praktik langsung bersama penutur asli, menonton film atau video berbahasa Minang, mendengarkan musik Minang, dan sering berkunjung ke rumah makan Padang untuk berinteraksi dengan pemilik atau pelayannya.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |