3 Cerita Kancil dan Buaya, Dongeng Klasik yang Sarat Makna

3 weeks ago 14

Liputan6.com, Jakarta Di antara banyaknya contoh cerita fantasi yang pernah kita dengar, cerita kancil dan buaya adalah salah satu yang paling diingat dan populer. Cerita kancil dan buaya ini menjadi cerita fabel singkat yang sering diceritakan dan dimasukkan dalam buku cerita anak-anak. Dalam dongeng kancil dan buaya, tokoh kancil digambarkan sebagai hewan kecil namun cerdik dan penuh akal. Sementara buaya melambangkan hewan besar yang kuat namun mudah tertipu. Kisah ini digemari anak-anak, baik sebagai dongeng sebelum tidur panjang maupun dongeng lucu yang sering dibacakan di sekolah.

Sebagai salah satu dongeng kancil singkat yang legendaris, cerita kancil dan buaya ini juga termasuk cerita pendek singkat yang mengandung makna dan pesan moral. Dari dongeng pendek ini, pembaca belajar bahwa kecerdikan dan strategi bisa menjadi senjata utama dalam menghadapi tantangan hidup. Cerita kancil dan buaya juga memiliki beberapa versi sehingga dapat memperkaya imajinasi anak, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, dan pentingnya berpikir sebelum bertindak.

Cerita Kancil dan Buaya: Daging Segar dari Raja

Suatu pagi yang cerah di tepi hutan, Kancil berjalan santai sambil bersenandung kecil. Namun tak lama kemudian, perutnya mulai berbunyi keras — tanda lapar menyerang. Ia pun mencari sesuatu untuk dimakan. Pandangannya tertuju pada seberang sungai, di mana tampak deretan pohon dengan buah-buahan segar yang tampak sangat menggoda.

Masalahnya, sungai itu berarus deras. Kancil berdiri termenung di tepi air, menggaruk kepala kecilnya sambil berpikir keras. “Bagaimana caranya aku bisa menyeberang tanpa terseret arus?” gumamnya. Beberapa saat kemudian, muncul senyum licik di wajahnya — tanda ia mendapatkan ide cemerlang.

Ia pun memanggil dengan suara lantang, “Hei, Buaya! Keluarlah! Aku punya kabar gembira untukmu!”

Terdengar suara air bergejolak, lalu muncullah seekor buaya besar dari dalam sungai. “Ada apa, Kancil? Jangan ganggu tidurku kalau tidak penting,” kata Buaya dengan nada kesal.

Kancil tersenyum manis. “Oh, tentu ini penting! Aku datang membawa kabar bahwa Raja Hutan akan mengadakan pesta besar dan membagikan daging segar untuk semua hewan air, termasuk kalian, para buaya.”

Mata Buaya langsung berbinar. “Benarkah? Di mana dagingnya?”

“Ah, tenang dulu,” ujar Kancil licik. “Dagingnya banyak sekali, tapi aku harus tahu dulu berapa jumlah kalian agar bisa dibagikan dengan adil. Panggillah teman-temanmu, lalu berbarislah di sungai dari tepi sini sampai seberang sana.”

Tanpa curiga, Buaya pun memanggil kawanan temannya. Tak lama kemudian, puluhan buaya muncul dan berbaris rapi membentuk seperti jembatan hidup di atas air.

Kancil pun melompat ke punggung buaya pertama. “Baiklah, aku mulai menghitung. Satu... dua... tiga...” katanya sambil terus melangkah dari satu buaya ke buaya berikutnya, menyeberangi sungai dengan gesit.

Begitu sampai di seberang, Kancil menoleh ke belakang dan tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Dasar buaya bodoh! Aku tidak membawa daging apa pun. Aku hanya butuh menyeberang sungai, dan kalian telah membantuku tanpa sadar!”

Buaya-buaya itu langsung marah besar. Air sungai bergemuruh karena mereka menghantam permukaan air dengan ekor mereka. Namun, Kancil sudah berlari jauh ke dalam hutan sambil terus tertawa.

“Kadang, yang kecil memang bisa mengalahkan yang besar — asalkan punya akal,” ujar Kancil puas, sambil melahap buah-buahan segar hasil usahanya.

Cerita Kancil dan Buaya: Sahabat Sehati

Pada suatu hari di dalam hutan, hiduplah seekor Kancil yang tinggal di sana. Seperti biasanya, Kancil pergi mencari makan di dalam hutan. Untuk sampai ke tempat makanan, ia harus menyeberangi sungai. Setelah kenyang, Kancil pun berencana pulang ke rumah. Namun, ketika ia hendak menyeberang kembali, hujan turun sangat deras hingga air sungai meluap dan arusnya menjadi kuat.

Kancil merasa cemas karena tidak bisa menyeberang. Ia lalu melihat seekor Buaya di tepi sungai dan mencoba meminta bantuan.

“Buaya, apakah kamu bisa membantuku menyeberangi sungai ini?” tanya Kancil.

Buaya menjawab, “Jika aku membantu menyeberangkanmu, apa aku akan kamu anggap sebagai apa?”

Kancil pun menjawab, “Kita akan menjadi sahabat sehati sejiwa. Aku akan membantumu kalau kamu kesulitan di masa depan.”

Buaya berpikir sejenak, lalu bertanya lagi, “Jika aku membantu menyeberangkanmu, kamu akan menganggap aku apa?”

“Sahabat sehati sejiwa, Buaya,” jawab Kancil meyakinkan.

Percaya dengan perkataan Kancil, Buaya pun mengizinkannya naik ke punggungnya. Buaya mulai berenang menyeberangi sungai. Di tengah perjalanan, Buaya kembali bertanya, “Apa hubungan kita?”

“Sahabat sehati sejiwa,” jawab Kancil.

Buaya terus berenang. Saat mereka sudah sampai di tengah sungai, Buaya kembali bertanya, “Apa hubungan kita?”

“Sahabat sehati sejiwa,” jawab Kancil tanpa ragu.

Buaya merasa senang karena Kancil tetap memberikan jawaban yang sama dan terlihat tulus. Mereka pun hampir sampai di tepi sungai. Ketika tinggal satu lompatan lagi untuk sampai ke daratan, Buaya bertanya sekali lagi, “Apa hubungan kita?”

Kancil dengan cepat melompat ke tepi sungai dan berkata, “Sahabat pantat!”

Buaya sangat marah karena merasa ditipu oleh Kancil. Ia berteriak dengan penuh amarah, “Baiklah, Kancil. Aku akan mengingat bahwa kamu telah membohongiku. Tapi ingatlah, di depanmu akan ada banyak kesulitan dan penderitaan. Jika umur kita panjang, kita akan berjumpa lagi.”

Kancil pun berlari menjauh, sementara Buaya menatapnya dengan rasa marah dan dendam.

Cerita Kancil dan Buaya: Tipu Muslihat untuk Harimau

Rasa marah Harimau kepada Kancil semakin menjadi-jadi. Harimau terus mencari di mana Kancil berada. Suatu hari, Harimau melihat Kancil sedang berada di pinggir sungai. Tanpa pikir panjang, Harimau langsung berlari mendekat.

Kancil yang melihat Harimau datang dari kejauhan langsung kaget. Saat Harimau hendak menerkamnya, Kancil cepat berkata,

“Tunggu dulu, Harimau. Aku masih ada satu tugas terakhir dari Raja. Kalau tugasku sudah selesai, barulah kau boleh menangkapku.”

Harimau berhenti dan bertanya, “Tugas apa, Cil?”

“Aku diminta untuk memimpin barisan pasukan Raja,” jawab Kancil dengan tenang.

“Ini, lihat. Pasukan buaya di depan sudah rapi berbaris, menunggu arahanku di ujung sungai,” kata Kancil meyakinkan.

Harimau tampak kagum, “Wah, hebat sekali kau, Cil! Dari dulu aku ingin sekali menjadi pemimpin pasukan.”

Kancil tersenyum licik, “Kalau begitu, nanti kau bisa bergantian denganku menjadi pemimpin Pasukan Raja.”

“Ya, aku mau!” jawab Harimau bersemangat.

Kancil lalu berkata, “Aku duluan yang akan menyeberangi sungai dengan cara menaiki punggung buaya. Setelah aku sampai di seberang, nanti giliranmu, Harimau.”

Kemudian Kancil melompat-lompat di atas punggung buaya untuk menyeberangi sungai. Para buaya tidak menyadari tipu muslihat Kancil, karena tubuhnya kecil dan ringan. Ia dengan cepat berhasil sampai ke seberang sungai.

Dari seberang, Kancil berteriak, “Sekarang giliranmu, Harimau! Naiklah ke punggung buaya!”

Namun begitu Harimau melompat ke punggung buaya pertama, para buaya merasa marah. Mereka menyangka Harimau ingin menyerang, sehingga buaya-buaya itu langsung menerkam Harimau bersama-sama. Akhirnya, Harimau tewas dimakan oleh pasukan buaya.

Sementara itu, Kancil tersenyum puas di seberang sungai. Ia berhasil menipu Harimau dan selamat dari bahaya.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Apa pesan moral dari cerita Kancil dan Buaya?

Bahwa kecerdikan dan akal sehat dapat mengalahkan kekuatan fisik.

2. Siapa tokoh utama dalam cerita Kancil dan Buaya?

Tokoh utamanya adalah Kancil yang cerdik dan Buaya yang mudah diperdaya.

3. Mengapa Kancil menipu Buaya?

Karena ia ingin menyeberangi sungai tanpa dimakan oleh buaya-buaya tersebut.

4. Apa yang bisa dipelajari anak dari cerita ini?

Anak-anak belajar pentingnya berpikir cepat, jujur, dan tidak mudah tertipu.

5. Apakah cerita Kancil dan Buaya memiliki versi lain?

Ya, ada beberapa versi yang berbeda di berbagai daerah Indonesia.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |