Liputan6.com, Jakarta - Barang yang disimpan karena rasa bersalah sering kali tetap memenuhi rumah meski sudah jarang atau bahkan tidak pernah digunakan. Perasaan tidak enak saat membuang hadiah, barang mahal, atau benda penuh kenangan dapat membuat seseorang memilih menyimpannya lebih lama daripada yang sebenarnya diperlukan.
Psikolog dan peneliti Mica Estrada, Ph.D., dalam tulisan di Psychology Today, menjelaskan bahwa keputusan untuk mempertahankan atau melepaskan barang tidak hanya dipengaruhi pertimbangan praktis, tetapi juga emosi seperti rasa bersalah, sedih, takut, hingga rasa bahagia. Ia juga mengaitkannya dengan kecenderungan manusia memberikan nilai lebih besar kepada benda yang sudah dimiliki.
Hal serupa berkaitan dengan endowment effect, yaitu kecenderungan seseorang menilai barang yang sudah dimiliki lebih tinggi dibandingkan ketika benda tersebut belum menjadi miliknya. Karena itu, proses beberes bukan sekadar menentukan barang mana yang masih berguna, tetapi juga menghadapi keterikatan emosional dan cara pikiran menilai kepemilikan. Lantas, apa saja barang yang disimpan karena rasa bersalah ini? Dilansir Liputan6 dari berbagai sumber, Kamis (13/8), berikut ulasan selengkapnya.
1. Hadiah yang Sebenarnya Tidak Pernah Dipakai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323083/original/037399700_1786600221-1.jpg)
Perbesar
Hadiah menjadi salah satu benda yang paling sulit dilepaskan karena keberadaannya sering dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap orang yang memberikan. Ketika barang tersebut tidak sesuai selera atau kebutuhan, pemiliknya bisa tetap menyimpan karena khawatir membuangnya berarti tidak menghargai pemberian.
Padahal, nilai sebuah hadiah tidak selalu bergantung pada berapa lama benda tersebut disimpan. Perhatian dan niat baik dari pemberi dapat tetap dihargai meskipun barangnya pada akhirnya tidak digunakan, diberikan kepada orang lain, atau dipisahkan dari koleksi pribadi.
2. Barang Mahal yang Jarang Digunakan
Barang dengan harga tinggi sering membuat pemilik merasa rugi jika harus melepaskannya. Pikiran seperti "sayang, dulu belinya mahal" dapat membuat benda tersebut bertahan di rumah meskipun selama berbulan-bulan tidak pernah digunakan.
Kondisi ini juga dapat berkaitan dengan keengganan mengakui bahwa keputusan pembelian sebelumnya ternyata tidak sesuai kebutuhan. Akhirnya, barang disimpan bukan karena masih berguna, tetapi karena pemilik ingin merasa bahwa uang yang pernah dikeluarkan tidak benar-benar sia-sia.
3. Pakaian yang Tidak Pernah Dipakai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323084/original/041296000_1786600221-3.jpg)
Perbesar
Pakaian yang dibeli untuk acara tertentu, mengikuti tren, atau karena tergoda diskon dapat berakhir di bagian belakang lemari. Meski tidak pernah dikenakan, benda tersebut tetap disimpan karena muncul perasaan sayang atau bersalah setelah mengingat uang yang sudah dikeluarkan.
Lemari yang penuh membuat pakaian semacam ini semakin sulit terlihat dan digunakan. Jika sebuah pakaian sudah lama tidak dipakai dan tidak ada rencana realistis untuk mengenakannya, keberadaannya dapat dievaluasi kembali agar ruang penyimpanan tidak terus terbebani.
4. Peralatan Dapur yang Hanya Sekali Dipakai
Peralatan dapur tertentu dibeli karena ingin mencoba resep baru atau mengikuti tren memasak. Setelah rasa penasaran selesai, alat tersebut justru tersimpan di lemari dan hanya sesekali terlihat ketika sedang mencari benda lain.
Membuangnya dapat terasa seperti mengakui bahwa pembelian tersebut kurang tepat. Karena itu, alat tetap disimpan dengan harapan akan digunakan lagi, meskipun kenyataannya kebutuhan memasak sehari-hari tidak pernah mengharuskannya keluar dari tempat penyimpanan.
5. Barang Pemberian dari Orang yang Disayangi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323085/original/044936000_1786600221-5.jpg)
Perbesar
Barang dari keluarga, teman, atau orang terdekat sering memiliki nilai emosional yang lebih besar daripada fungsi praktisnya. Sebuah benda sederhana dapat terasa penting karena mengingatkan pemilik pada hubungan dengan orang yang memberikan.
Keterikatan semacam ini membuat keputusan membuang benda terasa seperti tindakan yang berkaitan dengan hubungan tersebut. Padahal, menyimpan kenangan tentang seseorang dan menyimpan seluruh benda yang pernah diberikan kepadanya merupakan dua hal yang berbeda.
6. Souvenir dari Perjalanan atau Acara
Souvenir perjalanan, acara keluarga, atau kegiatan tertentu dapat menjadi pengingat sebuah pengalaman. Karena itu, meski tidak memiliki kegunaan sehari-hari, benda tersebut sering bertahan di rak, laci, atau kotak penyimpanan.
Masalahnya muncul ketika souvenir terus bertambah dan tidak lagi mempunyai tempat khusus. Pemilik dapat merasa bersalah jika ingin membuangnya karena menganggap setiap benda memiliki cerita, padahal tidak semua kenangan harus diwujudkan dalam bentuk benda fisik.
7. Perlengkapan dari Hobi Lama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323086/original/048480600_1786600221-7.jpg)
Perbesar
Peralatan olahraga, kerajinan, menggambar, memasak, atau aktivitas lain dari hobi lama juga dapat menjadi sumber rasa bersalah. Barang tersebut mengingatkan pada minat yang pernah ditekuni sehingga membuangnya terasa seperti meninggalkan bagian dari diri sendiri.
Padahal, perubahan minat merupakan hal yang wajar. Jika sebuah perlengkapan sudah lama tidak digunakan dan tidak ada rencana untuk kembali menekuni hobi tersebut, barang dapat dipertimbangkan kembali agar tidak hanya menjadi penghuni tetap lemari.
8. Buku yang Dibeli tetapi Belum Dibaca
Buku yang belum dibaca dapat menimbulkan rasa bersalah karena pemilik merasa seharusnya sudah meluangkan waktu untuk membacanya. Semakin lama buku berada di rak tanpa disentuh, semakin kuat pula perasaan bahwa buku tersebut "sayang" jika dilepas.
Namun, jumlah buku yang dimiliki tidak selalu menunjukkan seberapa banyak seseorang membaca. Jika buku tersebut tidak lagi menarik atau kemungkinan besar tidak akan dibaca, pemilik dapat mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan kepada orang lain yang mungkin lebih membutuhkannya.
9. Barang yang Penuh Kenangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323087/original/052304900_1786600221-9.jpg)
Perbesar
Barang lama seperti surat, foto, pakaian, atau benda kecil dari sebuah peristiwa dapat menyimpan kenangan yang kuat. Karena itu, keputusan untuk membuangnya sering terasa lebih emosional daripada membuang barang biasa.
Penelitian dan pembahasan psikologi tentang kepemilikan menunjukkan bahwa benda dapat dikaitkan dengan identitas, hubungan, dan pengalaman pribadi. Namun, kenangan tidak sepenuhnya bergantung pada benda fisik sehingga seseorang tetap dapat mengingat sebuah pengalaman meski tidak mempertahankan semua barang yang berkaitan dengannya.
10. Barang yang Dibeli untuk Hadiah tetapi Tidak Jadi Diberikan
Barang yang awalnya dibeli untuk seseorang tetapi akhirnya tidak jadi diberikan dapat menyimpan perasaan yang campur aduk. Pemilik mungkin merasa sayang karena sudah memilih dan membayar benda tersebut, sehingga barang akhirnya disimpan meski tidak memiliki fungsi yang jelas.
Benda seperti ini juga bisa menjadi pengingat terhadap rencana yang tidak terlaksana. Jika sudah tidak ada kebutuhan atau kesempatan untuk menggunakannya, barang tersebut dapat dievaluasi berdasarkan kegunaannya sekarang, bukan hanya berdasarkan alasan ketika pertama kali membelinya.
11. Barang yang Ternyata Salah Dibeli
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323088/original/055525700_1786600221-11.jpg)
Perbesar
Kesalahan membeli barang merupakan pengalaman yang bisa membuat seseorang enggan mengambil keputusan kedua. Daripada mengakui bahwa benda tersebut tidak sesuai kebutuhan, pemilik memilih menyimpannya dengan harapan suatu hari akan menemukan kegunaan untuk barang itu.
Padahal, menyimpan benda yang tidak diperlukan tidak mengubah keputusan pembelian yang sudah terjadi. Melepaskannya justru dapat menjadi cara untuk menerima bahwa tidak semua keputusan belanja akan selalu tepat.
12. Barang yang Diterima karena Tidak Enak Menolak
Ada barang yang diterima bukan karena benar-benar dibutuhkan, melainkan karena pemilik merasa tidak nyaman mengatakan tidak. Setelah dibawa pulang, benda tersebut kemudian tersimpan tanpa pernah digunakan.
Rasa sungkan kepada pemberi dapat membuat barang sulit dilepaskan. Namun, menerima sebuah pemberian tidak berarti seseorang wajib menggunakan benda tersebut selamanya, terutama jika barang justru membuat rumah semakin penuh.
13. Barang dari Fase Kehidupan yang Sudah Berubah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323089/original/058699800_1786600221-13.jpg)
Perbesar
Seragam, perlengkapan sekolah, dekorasi kamar, atau benda yang berkaitan dengan masa tertentu dapat menjadi simbol perjalanan hidup. Ketika kehidupan sudah berubah, benda tersebut mungkin tidak lagi dibutuhkan tetapi tetap disimpan karena membawa cerita dari masa lalu.
Tidak semua benda kenangan harus langsung dilepas. Namun, memilih beberapa barang yang benar-benar bermakna dapat menjadi jalan tengah agar kenangan tetap tersimpan tanpa membuat seluruh ruang dipenuhi benda dari fase kehidupan yang sudah berlalu.
14. Barang Rusak yang Terus Disimpan untuk Diperbaiki
Barang rusak sering bertahan karena pemilik merasa bertanggung jawab untuk memperbaikinya. Kalimat seperti "nanti diperbaiki" dapat membuat benda terus disimpan meski tidak ada waktu, biaya, atau rencana konkret untuk memperbaikinya.
Jika perbaikan terus ditunda, barang tersebut pada akhirnya hanya memakan ruang. Memberikan batas waktu yang realistis untuk menentukan apakah benda benar-benar akan diperbaiki dapat membantu mengurangi tumpukan barang yang tidak berfungsi.
15. Barang yang Disimpan karena Takut Suatu Saat Membutuhkannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5479203/original/001254400_1768970924-penyimpanan_barang_bekas_di_rumah_1.jpg)
Perbesar
Ketakutan akan membutuhkan barang di masa depan juga dapat membuat proses decluttering berhenti. Benda yang sebenarnya jarang digunakan tetap dipertahankan karena muncul kemungkinan bahwa suatu hari nanti barang tersebut akan diperlukan.
Pertimbangan seperti ini memang dapat masuk akal untuk barang tertentu yang sulit diganti atau benar-benar dibutuhkan. Namun, untuk benda yang mudah diperoleh kembali dan selama ini tidak pernah digunakan, rasa takut kehilangan kesempatan sebaiknya tidak menjadi satu-satunya alasan untuk mempertahankannya.
Mengapa Rasa Bersalah Membuat Merapikan Rumah Begitu Sulit
Rasa bersalah membuat aktivitas beberes menjadi lebih dari sekadar pekerjaan rumah tangga karena setiap benda bisa dikaitkan dengan uang, hubungan, kenangan, atau keputusan masa lalu. Ketika harus menentukan apakah barang akan disimpan atau dilepas, seseorang tidak hanya mempertimbangkan fungsi benda, tetapi juga menghadapi emosi yang muncul sehingga proses decluttering terasa lebih melelahkan.
- Barang Bisa Terasa seperti Perwakilan Sebuah Hubungan
Hadiah dari orang lain dapat dipandang sebagai simbol perhatian dan hubungan, sehingga keinginan membuangnya terkadang memunculkan perasaan seolah-olah sedang menolak pemberian atau tidak menghargai orang tersebut. Padahal, hubungan dan kenangan tidak harus selalu dipertahankan melalui benda fisik, sehingga seseorang tetap dapat menghargai pemberi tanpa wajib menyimpan seluruh barang yang pernah diberikan.
- Barang Mahal Membuat Kesalahan Masa Lalu Terasa Lebih Berat
Barang dengan harga tinggi sering menjadi pengingat terhadap uang yang pernah dikeluarkan sehingga pemilik merasa semakin berat untuk melepaskannya. Kecenderungan manusia memberikan nilai lebih tinggi pada benda yang sudah dimiliki, yang dikenal sebagai endowment effect, juga dapat membuat barang terasa lebih berharga setelah menjadi bagian dari kepemilikan pribadi.
- Terlalu Banyak Keputusan Membuat Beberes Terasa Melelahkan
Decluttering mengharuskan seseorang mengambil keputusan berkali-kali, mulai dari menentukan barang yang disimpan, diberikan, dijual, didaur ulang, hingga dibuang. Jika hampir setiap benda memiliki cerita atau memicu rasa bersalah, proses tersebut dapat terasa menguras energi sehingga seseorang memilih menunda beberes daripada menghadapi keputusan yang tidak nyaman.
Cara Menghadapi Rasa Bersalah Saat Mulai Decluttering
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564350/original/084013500_1776935768-decultering.jpeg)
Perbesar
Menghadapi rasa bersalah saat decluttering bukan berarti harus memaksa diri membuang semua barang sentimental sekaligus. Tujuannya adalah belajar membuat keputusan berdasarkan kebutuhan dan fungsi saat ini sambil tetap mengakui bahwa sebuah benda boleh memiliki nilai emosional tanpa harus terus disimpan di rumah.
- Pisahkan Nilai Emosional dari Fungsi Barang
Sebuah benda bisa memiliki kenangan penting meski sudah tidak memiliki fungsi praktis, sehingga keduanya perlu dipertimbangkan secara terpisah. Jika nilai sentimentalnya memang kuat, pilih beberapa benda yang paling bermakna daripada mempertahankan semuanya agar kenangan tetap terjaga tanpa membuat ruang semakin penuh.
- Ingat bahwa Menghargai Pemberian Tidak Harus Selamanya
Hadiah dapat dihargai karena perhatian dan niat baik yang menyertainya, tetapi hal tersebut tidak berarti benda harus disimpan atau digunakan sepanjang hidup. Ketika barang sudah tidak sesuai kebutuhan, memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan juga dapat menjadi pilihan agar benda tersebut tetap memiliki manfaat.
- Gunakan Pertanyaan yang Lebih Praktis
Saat merasa bersalah hendak melepas barang, pertanyaan seperti "Apakah benda ini masih digunakan?", "Apakah ada rencana realistis untuk memakainya?" dan "Apakah orang lain mungkin lebih membutuhkannya?" dapat membantu mengalihkan fokus dari rasa bersalah menuju kebutuhan nyata. Cara ini membuat keputusan lebih objektif tanpa mengabaikan nilai emosional yang mungkin melekat pada barang.
- Mulai dari Barang yang Tidak Terlalu Emosional
Proses decluttering dapat dimulai dari benda yang sudah rusak, kedaluwarsa, tidak terpakai, atau jumlahnya terlalu banyak sebelum beralih ke barang sentimental. Memulai dari keputusan yang lebih mudah dapat membantu membangun kebiasaan memilah tanpa langsung berhadapan dengan benda yang memiliki beban emosional kuat.
- Beri Jeda jika Keputusan Terasa Terlalu Berat
Jika sebuah benda memunculkan emosi kuat, keputusan tidak harus selalu dibuat saat itu juga karena barang dapat dimasukkan ke tempat khusus untuk ditinjau kembali setelah beberapa waktu. Jeda tersebut memberi kesempatan untuk melihat benda dengan perspektif yang lebih tenang dan menentukan apakah barang benar-benar masih dibutuhkan atau hanya dipertahankan karena rasa bersalah.
Pertanyaan Seputar Barang yang Disimpan karena Rasa Bersalah
1. Mengapa rasa bersalah membuat seseorang sulit membuang barang?
Karena barang dapat memiliki nilai emosional dan dianggap mewakili hubungan, uang, kenangan, atau keputusan masa lalu.
2. Apakah semua hadiah harus disimpan?
Tidak. Hadiah dapat dihargai karena niat pemberinya tanpa harus disimpan atau digunakan selamanya.
3. Mengapa barang mahal sulit dibuang?
Harga pembelian dapat memunculkan perasaan sayang dan membuat seseorang merasa telah menyia-nyiakan uang.
4. Bagaimana memulai decluttering tanpa rasa bersalah?
Mulailah dari barang yang sudah rusak, tidak terpakai, atau jumlahnya berlebihan sebelum memilah benda sentimental.
5. Apakah barang kenangan harus selalu disimpan?
Tidak. Pilih benda yang benar-benar bermakna dan pertimbangkan cara lain untuk menyimpan kenangan, seperti dokumentasi foto.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323471/original/063671700_1786613589-HL_keyboard.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9291714/original/033005000_1783574254-Ide_Dapur_Tema_Pawon_Jawa__Tampil_Modern_Minimalis_Ala_Tradisional_Model_Skandinavia_Warna_Netral.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5141815/original/061399600_1740385456-two-girls-friends-sitting-park.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415196/original/012501800_1763363692-dian-lee-VZcA0eIczv0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323576/original/045910900_1786621404-53ff6e71-a023-49b2-9c8c-b4202589b606.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323479/original/078041900_1786613654-pexels-sokmeas-uy-113943-32497735.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323563/original/077334100_1786620228-dedfff.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256424/original/072136500_1781157874-pepaya_di_sawah.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323594/original/007222300_1786622466-strategi_pemasara.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323605/original/097130400_1786623376-pexels-shvets-production-9774202.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323454/original/076963600_1786612959-Ide_pembatas_ruangan_untuk_rumah_kecil_menggunakan_sketsel_berbagai_motif_unik.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546734/original/077858600_1775363436-ide_teras_hijau_dengan_pohon_bambu_sebagai_pagar_alami_anti_panas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323404/original/095519900_1786611410-cermin.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323455/original/093923700_1786613341-Gemini_Generated_Image_mv726xmv726xmv72.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323361/original/082130400_1786610295-Ide_Makanan_Bertema_17_Agustus.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9322904/original/057724100_1786593536-hl3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323504/original/053432800_1786616486-unnamed__2_.webp)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323336/original/065850300_1786609587-ChatGPT_Image_Aug_13__2026__03_25_04_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543785/original/046987400_1775034956-Jualan_Snack_Kemasan_Ulang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323362/original/091182500_1786610411-pexels-leon-aschemann-734730704-18631322.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6707818/original/004530300_1779526004-1779525648.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557096/original/065659700_1776318001-Gambar_Rumah_Sederhana_6x9_di_Kampung_Dekat_Sawah_yang_Jadi_Tren_Desain_2026.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558460/original/066569600_1776419680-HL_mangga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560536/original/020239000_1776672350-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566397/original/034900000_1777180569-Desain_Rumah_50_Juta_dengan_Ventilasi_Silang_Alami_Model_Teras_Ganda.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559831/original/019905700_1776645721-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7026414/original/064378700_1779801039-Gemini_Generated_Image_bb1cq2bb1cq2bb1c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5705844/original/009190100_1778588694-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5753994/original/053180300_1778655561-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566459/original/099990000_1777186387-Cara_Cepat_Bersihkan_Kulkas_Tanpa_Bongkar_Semua_Isi_dan_Tetap_Bersih_Maksimal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5570927/original/085307900_1777551328-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559169/original/005017800_1776523941-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565766/original/098117700_1777086011-unnamed__30_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569841/original/046143800_1777456700-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5697309/original/087148900_1778575609-Gemini_Generated_Image_fqdhcafqdhcafqdh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560608/original/012737700_1776674546-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5568461/original/001756800_1777360580-kre1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560766/original/050726300_1776682615-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566874/original/055492400_1777259351-1.jpg)