11 Mitos Larangan Tahun Baru, Kepercayaan Lama yang Sarat Makna

1 week ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Perayaan pergantian tahun selalu diwarnai dengan berbagai tradisi dan kepercayaan turun-temurun yang masih dipegang teguh oleh masyarakat hingga saat ini. Di berbagai belahan dunia, terdapat beragam mitos larangan tahun baru yang menjadi bagian dari warisan budaya, membimbing banyak orang dalam menyambut awal tahun dengan harapan keberuntungan.

Kepercayaan-kepercayaan ini tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi panduan spiritual bagi banyak orang dalam menyambut awal tahun yang baru dengan harapan mendapatkan keberuntungan dan keberkahan. Di tengah kemajuan teknologi dan modernisasi, mitos larangan tahun baru tetap mempertahankan eksistensinya sebagai bagian integral dari perayaan pergantian tahun.

Banyak keluarga yang masih menjalankan pantangan-pantangan tertentu dengan penuh keyakinan bahwa hal tersebut akan memengaruhi nasib mereka di tahun mendatang. Fenomena ini menunjukkan bahwa kearifan lokal dan tradisi nenek moyang masih memiliki tempat khusus di hati masyarakat modern, di mana setiap mitos larangan tahun baru memiliki filosofi dan makna tersendiri yang bertujuan mengundang energi positif.

Berikut ini telah LIputan6 rangkum berbagai kepercayaan terhadap mitos larangan tahun baru, pada Selasa (30/12).

Daftar Pantangan dan Larangan Saat Tahun Baru

Berbagai budaya memiliki daftar panjang pantangan atau larangan yang diyakini dapat memengaruhi nasib seseorang di tahun yang baru. Dari membersihkan rumah hingga memecahkan barang, setiap larangan memiliki makna simbolis tersendiri yang diwariskan secara turun-temurun. Memahami pantangan ini membantu kita mengapresiasi kekayaan budaya dan kepercayaan masyarakat.

Berikut adalah beberapa pantangan dan larangan yang umum dipercaya saat menyambut tahun baru:

  1. Larangan Membersihkan Rumah: Tradisi Tiongkok kuno melarang menyapu atau mengepel pada malam atau hari pertama Tahun Baru Imlek karena dianggap dapat "membuang" rezeki dan keberuntungan. Disarankan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sebelum malam pergantian tahun untuk menjaga energi positif.
  2. Dompet Tidak Boleh Kosong: Kondisi dompet saat pergantian tahun dipercaya mencerminkan kondisi finansial sepanjang tahun mendatang. Dompet kosong dianggap pertanda buruk, sehingga disarankan menyimpan sejumlah uang tunai sebagai simbol kesiapan menerima rezeki dan kemakmuran.
  3. Hindari Memasak Ayam: Beberapa kepercayaan melarang penyajian hidangan ayam saat tahun baru karena ayam dianggap melambangkan rezeki yang mudah "terbang" atau ketidakstabilan ekonomi. Simbolisme ini berasal dari karakteristik ayam yang dapat terbang, yang diinterpretasikan sebagai ketidakstabilan finansial.
  4. Larangan Menangis: Menangis atau menunjukkan kesedihan di malam atau hari pertama tahun baru diyakini akan membawa kesedihan yang berlanjut sepanjang tahun. Oleh sebab itu, suasana hati yang ceria dan penuh kebahagiaan sangat dianjurkan untuk menarik energi positif.
  5. Tidak Mengeluarkan Barang Berharga: Mengeluarkan uang tunai atau perhiasan pada Hari Tahun Baru dipercaya sama dengan menghilangkan keberuntungan finansial. Barang berharga sebaiknya tetap berada dalam rumah sebagai jangkar untuk kemakmuran dan akumulasi kekayaan.
  6. Hindari Memecahkan Barang: Memecahkan atau merusak benda pada malam tahun baru dianggap sebagai pertanda sangat buruk yang dapat mengundang kehancuran dan kekacauan. Kepercayaan ini berakar pada korelasi simbolis antara kerusakan fisik dengan retakan spiritual atau emosional.
  7. Menghindari Pertanda Negatif: Banyak budaya memiliki kepercayaan untuk menghindari hal-hal yang dianggap sebagai pertanda negatif saat tahun baru, meskipun spesifikasinya bervariasi. Ini adalah tindakan pencegahan untuk menghindari kontaminasi energi negatif dan memastikan awal tahun yang baik.
  8. Larangan Mencuci atau Memotong Rambut: Dalam tradisi Mandarin, mencuci atau memotong rambut dipercaya dapat "memotong" atau "mencuci" keberuntungan yang akan datang karena kemiripan fonetik kata "rambut" dengan "keberuntungan". Kepercayaan ini sangat spesifik pada waktu pergantian tahun.
  9. Dilarang Tidur Siang: Tidur siang di hari pertama tahun baru diyakini bisa membawa kebiasaan malas sepanjang tahun. Tetap terjaga di siang hari dianggap sebagai simbol semangat dan produktivitas di tahun yang baru.
  10. Tidak Memakan Bubur: Bubur dipercaya sebagai tanda keterbatasan ekonomi atau kemiskinan di masa lalu. Menyantap bubur di awal tahun diyakini bisa membawa hambatan finansial atau nasib buruk keuangan.
  11. Jangan Membangunkan Orang Secara Paksa: Membangunkan orang lain secara paksa di pagi Tahun Baru dipercaya akan membawa tanda adanya tekanan dan kerja keras tanpa henti bagi orang tersebut sepanjang tahun.

Kegiatan yang Disarankan untuk Mengundang Keberuntungan

Selain pantangan, ada juga berbagai kegiatan positif yang disarankan untuk dilakukan saat tahun baru demi mengundang keberuntungan dan kebahagiaan. Praktik-praktik ini seringkali berakar pada keinginan untuk membersihkan diri dari hal negatif dan menyambut hal positif.

Berikut adalah beberapa kegiatan yang dipercaya dapat membawa keberuntungan:

  1. Membakar Masa Lalu: Di Ekuador, tradisi membakar boneka jerami atau kertas yang menyerupai tokoh atau peristiwa buruk diyakini dapat membebaskan dari beban masa lalu dan memulai tahun dengan energi positif.
  2. Membakar Kembang Api: Kembang api dan petasan dianggap sebagai cara untuk membakar kenangan buruk, mengusir roh jahat, dan melambangkan pencerahan serta harapan untuk masa depan yang cerah.
  3. Menyusun Resolusi Tahun Baru: Menetapkan tujuan baru di awal tahun adalah mekanisme mental yang kuat untuk mendorong transformasi diri, memberikan struktur pada keinginan abstrak, dan mengubahnya menjadi rencana nyata.
  4. Makan Anggur untuk Keberuntungan: Di Spanyol, tradisi memakan 12 buah anggur tepat pada saat pergantian tahun, melambangkan setiap bulan, diyakini dapat membawa keberuntungan yang berlimpah.
  5. Bangun Pagi di Hari Tahun Baru: Memulai hari pertama tahun baru dengan bangun pagi sering dikaitkan dengan memulai tahun dengan semangat dan produktivitas, membantu menetapkan pola positif sejak awal tahun.
  6. Membuat Keributan: Di beberapa budaya, merayakan Tahun Baru dengan suara keras diyakini dapat mengusir roh jahat dan energi negatif, membersihkan ruang dari energi stagnan.
  7. Mengenakan Pakaian Baru: Mengenakan pakaian baru pada malam pergantian tahun dipercaya akan membawa keberuntungan dan memastikan bahwa seseorang akan mendapatkan pakaian baru yang cukup sepanjang tahun, sebagai simbol kemakmuran.
  8. Makan Sayuran untuk Keberuntungan: Makanan berdaun hijau, seperti kubis, sawi, dan bayam, diyakini dapat mendatangkan keberuntungan dan kekayaan, membawa energi positif yang mengundang kemakmuran finansial.

Mitos dan Tradisi Lain di Tahun Baru

Selain perayaan Tahun Baru Masehi, terdapat pula mitos dan tradisi yang menyertai pergantian tahun dalam kalender lain, seperti Tahun Baru Islam (1 Muharam) dan Tahun Baru Imlek. Mitos-mitos ini juga memiliki tujuan serupa, yaitu menjaga diri dan mengharapkan keberkahan.

Mitos seputar malam satu Suro, yang bertepatan dengan 1 Muharam dalam penanggalan Hijriah dan awal tahun dalam kalender Jawa, juga beragam. Masyarakat Jawa masih meyakini satu Suro sebagai waktu penuh nuansa spiritual, dengan larangan keluar rumah setelah magrib, pantangan menggelar hajatan, hingga anjuran untuk tidak berkata kasar. Ritual dan pantangan ini bertujuan agar manusia senantiasa eling lan waspada (ingat dan waspada), menjaga perilaku, serta mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tahun Baru Imlek juga penuh dengan makna dan simbolisme. Salah satu tradisi yang sering dipertanyakan adalah bolehkah mandi atau keramas saat Tahun Baru Imlek. Larangan ini bertujuan untuk menjaga keberuntungan yang datang di tahun baru, dengan tradisi menyucikan diri pada malam sebelumnya agar energi buruk dari tahun lalu tersingkir.

Tanya Jawab (QnA)

Q: Apakah mitos larangan tahun baru memiliki dasar ilmiah?

A: Secara ilmiah, sebagian besar mitos larangan tahun baru tidak memiliki landasan yang berbasis bukti. Namun, dari perspektif psikologi, kepercayaan ini dapat memberikan kenyamanan psikologis, struktur, dan rasa kendali yang berkontribusi pada kesejahteraan mental. Efek plasebo juga dapat mempengaruhi hasil positif ketika seseorang benar-benar percaya pada praktik tersebut.

Q: Bagaimana jika tidak sengaja melanggar salah satu pantangan tahun baru?

A: Berbagai tradisi memiliki ritual penyeimbang atau obat untuk pelanggaran yang tidak disengaja. Misalnya, jika secara tidak sengaja memecahkan barang, dapat dilakukan ritual pembersihan atau tindakan amal untuk menetralkan efek negatif. Yang terpenting adalah niat dan sikap, bukan kepatuhan kaku pada aturan. Rasa bersalah atau kecemasan berlebihan justru dapat merugikan.

Q: Apakah mitos ini berlaku universal atau hanya untuk budaya tertentu?

A: Mitos larangan tahun baru sangat spesifik budaya dan bervariasi signifikan antar wilayah. Apa yang dianggap pantangan dalam satu budaya mungkin sangat normal atau bahkan menguntungkan dalam budaya lain. Penting untuk memahami konteks budaya dan tidak menggeneralisasi kepercayaan lintas komunitas yang berbeda.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |